![]() |
| image from google.com , educenter.id |
Bagi kebanyakan orang, mendidik anak hanya tentang memasukkan
mereka ke sekolah. Pendidikan yang baik, mereka artikan bahwa anak harus masuk
ke sekolah favorit. Demi itu orangtua rela melakukan apa saja, agar anak mereka
bisa belajar disekolah favorit.
Apakah itu sebuah pilihan yang buruk? Tidak juga. Namun, akan menimbulkan
pertanyaan, tentang tanggung jawab akan pendidikan anak. Saat anak kita, kita
titipkan pada orang lain, dalam hal ini pihak sekolah, lantas apa peran kita
sebagai orangtua dalam mendidiknya?
Hal yang penting adalah pendidikan anak merupakan tanggung
jawab orangtua. Tidak ada yang membantah akan hal ini. Lalu, bagaimana peran
sekolah? Sekolah merupakan institusi yang membantu kita sebagai orangtua dalam
mendidik anak. Peran orangtualah tetap yang paling utama. Jangan sampai
terbalik, seolah sekolah memegang peran utama dalam pendidikan anak, sehingga
orangtua bisa lepas tangan jika kita sudah memasukkan anak ke sekolah. Artinya
apa sih, bila hasil di sekolah anak kurang memuaskan, dalam hal akademik atau
juga dalam sikap, kita sebagai orangtua tidak boleh lepas tangan, orangtualah
yang harus mengisi kekurangan itu dengan peran mereka. Dengan prinsip itu maka
ada sejumlah orangtua yang memilih untuk tidak menyekolahkan anak ke sekolah
formal, cukup menempuh pendidikan dengan cara homeschooling.
Lalu bagaimana seharusnya orangtua bersikap?. Dalam hal pelajaran
akademik, kita harus terlibat langsung mengajari anak berbagai pelajaran yang
mereka terima di sekolah. Membantu anak untuk memahami dengan lebih baik, ketika
mereka masih kesulitan memahami materi yang diajarkan di sekolah. Ada materi
pelajaran yang perlu diperjelas lagi, mungkin konsep yang diajarkan guru-guru
bisa saja keliru. Ada pelajaran yang harus kita tambahkan, untuk pengayaan
terhadap materi yang sudah diajarkan. Itulah yang harus dilakukan sebagai
orangtua.
Bila sekolah sudah cukup memenuhi kebutuhan anak kita, maka kita
tinggal memperkayanya. Tapi ketika sekolah kita anggap tidak memadai, maka kita
sebagai orangtua harus melengkapinya. Kita harus mengambil peran utama dalam
pengajaran materi-materi akademik itu.
Materi pelajaran disekolah itu sesungguhnya hanya bagian dari semua
komponen pendidikan anak kita. Yang lebih penting dari itu adalah pembentukan
karakter, seperti sikap gigih, tangguh, tertib, menjaga kebersihan, menghormati
dan menghargai orang lain, dan lain sebagainya. Sebagian dari kebutuhan itu
tentu saja bisa kita harapkan dipenuhi oleh sekolah. Namu peran terbesar dalam pembentukannya kuncinya
ada pada orangtua. Porsi terbesar dalam pendidikan anak sebenarnya tidak didapat
melalui proses pengajaran, anak akan lebih mudah memahami dari interaksi. Kita
berinteraksi dengan anak setiap hari, dari situ kita menanamkan nilai-nilai. Mulai
dari bangun tidur kita sapa, kita belai saat bersama, saat bermain dan berbagai
aktivitas yang kita lakukan bersama. Pembangunan karakter tadi tidak bisa hanya
melalui nasehat verbal saja, tidak bisa hanya kita suruh kepada anak kita untuk
melakukannya, karakter itu harus dibentuk dengan pembiasaan dan kita sebagai
orangtua adalah sebagai pengontrol, pembimbing dan sebagai contoh dari anak
kita. Karena itu, interaksi adalah pusat dalam pendidikan anak kita. Dan ketika
anak kita jauhkan dari kita, itu akan menghilangkan komponen terbesar tadi? Sesibuk
apapun kita sebagai orangtua, kita harus memberikan pendidikan dan perhatian
untuk anak kita.
Banyak orangtua berkata bahwa mereka tidak mampu melakukan itu
semua. Kalau tidak mampu, itu berarti Anda merasa tidak mampu mendidik anak
bukan? Lalu, kenapa punya anak? Banyak kasus, para orangtua itu bukan tidak
mampu, tapi tidak tahu atau tidak sadar. Mereka mengira pendidikan itu identik
dengan sekolah. Ketika anak sudah sekolah maka orangtua tidak perlu mengajari
lagi, ini merupakan pandangan yang keliru. Oranngtua yang sudah tahu, tidak
punya cukup keinginan untuk melaksanakannya. Mereka yang tidak mampu, tidak
punya keinginan belajar, supaya mereka menjadi mampu. Ya, setiap orang perlu
belajar untuk menjadi orangtua. Menjadi orangtua bukanlah sekadar memenuhi
hasrat nafsu, yang efek biologisnya adalah mempunyai anak. Juga bukan sekedar
untuk memenuhi kebutuhan psikologis, menikmati interaksi dengan anak hanya pada
bagian yang kita sukai saja. Juga bukan untuk memenuhi kebutuhan sosial, punya
anak karena orang lain punya anak.
Dari awal, saat anak sudah hadir di kandungan, pasangan orang tua
harus tahu bagaimana ia harus diperlakukan. Salah perlakuan bisa membuat bayi
tadi terancam jiwanya, atau lahir dengan kondisi yang tidak diinginkan. Saat
bayi sudah lahir, sebagai orangtua harus tahu bagaimana cara merawatnya.
Perawatan diperlukan tidak hanya untuk fisik saja, tapi juga untuk kebutuhan
psikisnya. Demikian pula seterusnya. Orangtua tidak boleh berhenti belajar,
guna memenuhi kebutuhan untuk mendidik anak-anaknya.
Banyak orangtua enggan melakukan itu. Makin besar anak tumbuh,
makin kompleks kebutuhan pendidikannya. Artinya, makin kompleks hal-hal yang
harus dipelajari. Saya contohkan sendiri untuk mendorong anak saya agar
tertarik belajar menggambar, saya ajak anak untuk menggambar bersama. Saya juga
harus belajar ulang tentang dasar ilmu design untuk mengajari anak, karena
kebutuhan anak kita yang sangat dinamis. Jadi, sebenarnya tidak ada istilah
tidak bisa dalam mendidik anak. Yang ada hanyalah tidak mau.
(cumibalado)
Share This :

comment 0 komentar
more_vert