MASIGNCLEAN103

Sekolah, orangtua dan pendidikan anak !

image from google.com , educenter.id

Bagi kebanyakan orang, mendidik anak hanya tentang memasukkan mereka ke sekolah. Pendidikan yang baik, mereka artikan bahwa anak harus masuk ke sekolah favorit. Demi itu orangtua rela melakukan apa saja, agar anak mereka bisa belajar disekolah favorit.


Apakah itu sebuah pilihan yang buruk? Tidak juga. Namun, akan menimbulkan pertanyaan, tentang tanggung jawab akan pendidikan anak. Saat anak kita, kita titipkan pada orang lain, dalam hal ini pihak sekolah, lantas apa peran kita sebagai orangtua dalam mendidiknya? 

Hal yang penting adalah pendidikan anak merupakan  tanggung jawab orangtua. Tidak ada yang membantah akan hal ini. Lalu, bagaimana peran sekolah? Sekolah merupakan institusi yang membantu kita sebagai orangtua dalam mendidik anak. Peran orangtualah tetap yang paling utama. Jangan sampai terbalik, seolah sekolah memegang peran utama dalam pendidikan anak, sehingga orangtua bisa lepas tangan jika kita sudah memasukkan anak ke sekolah. Artinya apa sih, bila hasil di sekolah anak kurang memuaskan, dalam hal akademik atau juga dalam sikap, kita sebagai orangtua tidak boleh lepas tangan, orangtualah yang harus mengisi kekurangan itu dengan peran mereka. Dengan prinsip itu maka ada sejumlah orangtua yang memilih untuk tidak menyekolahkan anak ke sekolah formal, cukup menempuh pendidikan dengan cara homeschooling.

Lalu bagaimana seharusnya orangtua bersikap?. Dalam hal pelajaran akademik, kita harus terlibat langsung mengajari anak berbagai pelajaran yang mereka terima di sekolah. Membantu anak  untuk memahami dengan lebih baik, ketika mereka masih kesulitan memahami materi yang diajarkan di sekolah. Ada materi pelajaran yang perlu diperjelas lagi, mungkin konsep yang diajarkan guru-guru bisa saja keliru. Ada pelajaran yang harus kita tambahkan, untuk pengayaan terhadap materi yang sudah diajarkan. Itulah yang harus dilakukan sebagai orangtua.

Bila sekolah sudah cukup memenuhi kebutuhan anak kita, maka kita tinggal memperkayanya. Tapi ketika sekolah kita anggap tidak memadai, maka kita sebagai orangtua harus melengkapinya. Kita harus mengambil peran utama dalam pengajaran materi-materi akademik itu.

Materi pelajaran disekolah itu sesungguhnya hanya bagian dari semua komponen pendidikan anak kita. Yang lebih penting dari itu adalah pembentukan karakter, seperti sikap gigih, tangguh, tertib, menjaga kebersihan, menghormati dan menghargai orang lain, dan lain sebagainya. Sebagian dari kebutuhan itu tentu saja bisa kita harapkan dipenuhi oleh sekolah. Namu  peran terbesar dalam pembentukannya kuncinya ada pada orangtua. Porsi terbesar dalam pendidikan anak sebenarnya tidak didapat melalui proses pengajaran, anak akan lebih mudah memahami dari interaksi. Kita berinteraksi dengan anak setiap hari, dari situ kita menanamkan nilai-nilai. Mulai dari bangun tidur kita sapa, kita belai saat bersama, saat bermain dan berbagai aktivitas yang kita lakukan bersama. Pembangunan karakter tadi tidak bisa hanya melalui nasehat verbal saja, tidak bisa hanya kita suruh kepada anak kita untuk melakukannya, karakter itu harus dibentuk dengan pembiasaan dan kita sebagai orangtua adalah sebagai pengontrol, pembimbing dan sebagai contoh dari anak kita. Karena itu, interaksi adalah pusat dalam pendidikan anak kita. Dan ketika anak kita jauhkan dari kita, itu akan menghilangkan komponen terbesar tadi? Sesibuk apapun kita sebagai orangtua, kita harus memberikan pendidikan dan perhatian untuk anak kita.

Banyak orangtua berkata bahwa mereka tidak mampu melakukan itu semua. Kalau tidak mampu, itu berarti Anda merasa tidak mampu mendidik anak bukan? Lalu, kenapa punya anak? Banyak kasus, para orangtua itu bukan tidak mampu, tapi tidak tahu atau tidak sadar. Mereka mengira pendidikan itu identik dengan sekolah. Ketika anak sudah sekolah maka orangtua tidak perlu mengajari lagi, ini merupakan pandangan yang keliru. Oranngtua yang sudah tahu, tidak punya cukup keinginan untuk melaksanakannya. Mereka yang tidak mampu, tidak punya keinginan belajar, supaya mereka menjadi mampu. Ya, setiap orang perlu belajar untuk menjadi orangtua. Menjadi orangtua bukanlah sekadar memenuhi hasrat nafsu, yang efek biologisnya adalah mempunyai anak. Juga bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan psikologis, menikmati interaksi dengan anak hanya pada bagian yang kita sukai saja. Juga bukan untuk memenuhi kebutuhan sosial, punya anak karena orang lain punya anak.

Dari awal, saat anak sudah hadir di kandungan, pasangan orang tua harus tahu bagaimana ia harus diperlakukan. Salah perlakuan bisa membuat bayi tadi terancam jiwanya, atau lahir dengan kondisi yang tidak diinginkan. Saat bayi sudah lahir, sebagai orangtua harus tahu bagaimana cara merawatnya. Perawatan diperlukan tidak hanya untuk fisik saja, tapi juga untuk kebutuhan psikisnya. Demikian pula seterusnya. Orangtua tidak boleh berhenti belajar, guna memenuhi kebutuhan untuk mendidik anak-anaknya.


Banyak orangtua enggan melakukan itu. Makin besar anak tumbuh, makin kompleks kebutuhan pendidikannya. Artinya, makin kompleks hal-hal yang harus dipelajari. Saya contohkan sendiri untuk mendorong anak saya agar tertarik belajar menggambar, saya ajak anak untuk menggambar bersama. Saya juga harus belajar ulang tentang dasar ilmu design untuk mengajari anak, karena kebutuhan anak kita yang sangat dinamis. Jadi, sebenarnya tidak ada istilah tidak bisa dalam mendidik anak. Yang ada hanyalah tidak mau. 

(cumibalado)
Share This :
bramantyo

Cyberbullying pada anak, sebab akibat dan cara mencegahnya !

Pengganggu memang telah ada sejak lama, tetapi teknologi telah memberi mereka alat baru untuk melakukan tindakan mereka. Tidak selal...