Peran
keluarga memang sangat penting dalam perkembangan dan pendidikan anak. Bicara tentang
pendidikan anak, tentu ini tidak hanya tentang mengajari anak untuk bisa
melakukan sesuatu atau memikirkan sesuatu. Pendidikan itu juga termasuk membuat
anak menjadi individu yang lebih dewasa dan matang, untuk kehidupannya dalam
jangka panjang, seumur hidupnya, bukan hanya ketika di usia sekolah. Artinya,
peran keluarga menjadi sangat besar, karena terkait dengan semua aspek
perkembangan dan pendidikan anak.
Apa
lagi yang harus kita perhatikan dan terapkan sehari-hari untuk mendukung
pendidikan anak?
DORONGAN ORANG TUA
Dorongan
agar orang tua lebih terlibat dalam pendidikan anak-anak mereka saat ini memang
makin gencar dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI.
Laman Kemdikbud pun sekarang dibuat lebih menarik, informatif, dan bersahabat
bagi orang tua. Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pendidikan dan Kedubayaan
(Mendikbud) RI, menekankan pentingnya peran keluarga sebagai penyokong
pendidikan anak-anak. Orang tua tidak sekadar diajak untuk lebih terlibat,
tidak boleh lagi cuek dan menyerahkan urusan pendidikan kepada guru di sekolah
saja, tetapi juga menerapkan pendidikan serta pengasuhan yang menumbuhkan bagi
anak-anak mereka. Gagasan-gagasan cemerlang Ki Hadjar Dewantara, bapak
pendidikan Indonesia, yang banyak menekankan konsep pendidikan berbasis
keluarga.
Pakar
pendidikan Bukik Setiawan, dalam bukunya Anak Bukan Kertas Kosong, menuliskan 3
pemikiran Ki Hadjar Dewantara, yang salah satunya adalah pentingnya peran
keluarga dalam pendidikan anak. Keluarga adalah pusat pendidikan. Orang tua
mungkin bisa mendelegasikan pengajaran kepada kaum ahli, tetapi pendidikan anak
tetaplah menjadi tanggung jawab orang tua. Peran orang tua tidak tergantikan
oleh sekolah, lembaga pendidikan, ataupun lembaga bakat. Bukik mengingatkan
kita pada tulisan Ki Hadjar yang mengatakan, “Pokoknya pendidikan harus
terletak di dalam pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat
berhamba pada sang anak dengan semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab
cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas.”
Beberapa
mama yang berbagi cerita dengan Parenting Indonesia sepakat bahwa orang tua
harus mengambil peran terbesar dalam menerapkan pendidikan bagi anak-anak
mereka, tak peduli seberapa sibuk mereka dengan urusan pekerjaan. Secara luwes,
mereka berbagi porsi atau peran dan saling melengkapi. "Suami lebih banyak
mengasah motorik kasar anak dengan mengajak anak berolahraga, sementara saya
lebih ke motorik halusnya, misalnya. Tetapi, anak bisa belajar dengan siapa
yang dia suka. Mungkin suatu saat dengan saya, di kesempatan lain dengan
papanya. Kadang yang menegakkan peraturan adalah papanya, sementara saya juga
bisa tegas dalam memberi sanksi, jika anak melanggar peraturan,” ungkap Maya
Safrina, ibu rumah tangga, mama dari Dira (10).
Sementara,
Dian Putri, mama dari Dafi (9), lebih menekankan pembagian porsi pada urusan
‘software’ anak. “Sebagai mama, porsi terbesar saya adalah sebagai motivator
pembentuk akhlak anak, kasih sayang, serta empati. Sementara, sebagai papa,
suami saya mempunyai peran membentuk jiwa tanggung jawab, disiplin, role model
dalam sikap dan pembentukan karakter kuat dan pemberani, terutama karena anak
kami laki-laki,” papar Dian.
Share This :

comment 0 komentar
more_vert