MASIGNCLEAN103

Cahaya Alqur'an

Alquran buat umat Islam persis seperti air untuk ikan. Apalah arti aquarium yang indah buat ikan, jika tanpa air yang cukup dan jernih. Apalah arti sungai yang luas bagi ikan, jika hanya beberapa senduk air yang membalut tanah menjadi lumpur. Kalau pun ada yang bisa bertahan dalam lumpur, ikan tidak bisa hidup nyaman. Ruang hidupnya menjadi sempit.



Tanpa bimbingan Alquran, kaum muslimin cuma bisa menang dari segi jumlah. Tapi, tidak berdaya dalam soal pengaruh. Mereka menjadi umat yang hanya berkutat pada persoalan sempit: khilafiyah, aliran sesat, konflik internal, dan perebutan secuil jatah kue ekonomi. 

Sebuah kritik diri mungkin menarik untuk diajukan: kenapa umat Islam mundur, sementara yang lain bisa maju? Ternyata, jawaban kritik itu pun tak kalah menarik. Umat selain Islam bisa maju karena mereka meninggalkan kitab suci mereka. Sementara, umat Islam mundur justru karena ikut-ikutan melepas kedekatan diri dengan Alquran. 

Jawaban itu sebenarnya sudah diungkapkan Rasulullah saw. jauh sebelum masa fitnah ini datang. Rasulullah saw. mengatakan, “Sesungguhnya Allah swt. akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (al-Qur’an), dan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain.” (HR. Muslim)

Itulah yang terjadi saat ini di tubuh umat Islam. Di belahan bumi mana pun, umat Islam persis seperti yang digambarkan Rasulullah saw. sebagai hidangan yang diperebutkan orang. Buminya dijajah, kiprahnya dikucilkan, dan citranya ternodai dengan sebutan ‘teroris’. 

Seorang sahabat Rasul bertanya, “Apakah waktu itu umat Islam sedikit, Ya Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Justru kalian waktu itu banyak. Tapi, terjangkit penyakit wahn!” Masih bingung, sahabat itu pun bertanya lagi, “Apa itu wahn, ya Rasulullah?” Rasulullah saw. pun menjelaskan, “Cinta dunia dan takut mati!” 

Persoalan mendasar umat ini adalah tidak adanya pedoman yang bisa dijadikan pijakan bersama. Umat Islam terkotak-kotak dalam Undang-undang negara mereka. Mereka menjadi kehilangan identitas dan ideologi. 

Bisa diukur, sejauh mana kedekatan umat Islam bangsa ini dengan Alquran. Berapa dari dua ratusan juta umat Islam di negeri ini yang bisa membaca Alquran dengan baik dan benar. Berapa dari yang bisa membaca itu yang mampu memahami dengan baik. Dan berapa dari yang memahami itu, mengamalkan dan memperjuangkan isi Alquran. Jumlahnya mungkin sangat kecil. 

Tidak heran jika partai-partai Islam bukan pilihan yang menarik. Tidak heran jika hiburan porno menjadi tontonan yang laris. Umat Islam persis seperti yang disebut Rasulullah saw. sebagai buih: terlihat banyak, tapi tanpa isi. 

Begitu pun dengan mereka yang memperjuangkan Islam. Salah satu modal dasar sukses tidaknya perjuangan adalah ikatan dengan Alquran. Mulai dari bacaan, pemahaman, dan pengamalan. Alquran harus hidup dalam dunia nyata seorang aktivis: diri, keluarga, dan tempat kerja. 

Rasulullah saw. pernah menasihat para sahabat, “Jangan kamu menjadikan rumahmu bagaikan kuburan (hanya untuk tidur), sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surah Albaqarah.” (HR. Muslim)

Seorang aktivis Islam mestinya bukan lagi sekadar dekat dengan mushaf Alquran. Lebih dari itu. Ia seperti punya indera lain ketika Alquran dibacakan. Hatinya menjadi lunak dan terbuka. Pikirannya pun jernih. Ia seperti sedang mendengar seorang raja yang sangat dicintai berbicara di hadapannya. 

Seperti itulah yang pernah dilakukan seorang teladan aktivis dakwah, Baginda Rasulullah saw. Salah seorang sahabat yang begitu dekat dengan Rasul, Abdullah bin Mas’ud menuturkan pengalaman menarik itu. 

Suatu kali, Rasulullah saw. berkata kepadaku. “Bacakanlah untukku Al-Quran.” Aku berkata kepada Rasul, “Ya Rasulullah, bagaimana saya membacakan untukmu Al-Quran, padahal ia diturunkan kepadamu.” Rasulullah saw. mengatakan, “Saya ingin mendengar dari orang lain. Aku berkata, “Maka saya bacakan surat Annisa’ hingga sampai pada ayat Fakaifa idza ji’na min kulli ummatin bishyahidin waji’na bika ‘ala ha-ula-i syahida. Bagaimanakah jika Kami (Allah) telah mendatangkan untuk tiap umat saksinya, dan Kami jadikan kau sebagai saksi atas semua umat itu. Nabi berkata, “Cukuplah sampai di sini.” Maka aku menoleh ke arah Nabi saw. Aku mendapati Rasul sedang bercucuran air mata.” (HR. Bukhari Muslim)

(dari berbagai sumber).


Share This :
bramantyo

Cyberbullying pada anak, sebab akibat dan cara mencegahnya !

Pengganggu memang telah ada sejak lama, tetapi teknologi telah memberi mereka alat baru untuk melakukan tindakan mereka. Tidak selal...