Alquran buat umat Islam persis
seperti air untuk ikan. Apalah arti aquarium yang indah buat ikan, jika tanpa
air yang cukup dan jernih. Apalah arti sungai yang luas bagi ikan, jika hanya
beberapa senduk air yang membalut tanah menjadi lumpur. Kalau pun ada yang bisa
bertahan dalam lumpur, ikan tidak bisa hidup nyaman. Ruang hidupnya menjadi
sempit.
Tanpa bimbingan Alquran, kaum muslimin
cuma bisa menang dari segi jumlah. Tapi, tidak berdaya dalam soal pengaruh.
Mereka menjadi umat yang hanya berkutat pada persoalan sempit: khilafiyah,
aliran sesat, konflik internal, dan perebutan secuil jatah kue ekonomi.
Sebuah
kritik diri mungkin menarik untuk diajukan: kenapa umat Islam mundur, sementara
yang lain bisa maju? Ternyata, jawaban kritik itu pun tak kalah menarik. Umat
selain Islam bisa maju karena mereka meninggalkan kitab suci mereka. Sementara,
umat Islam mundur justru karena ikut-ikutan melepas kedekatan diri dengan
Alquran.
Jawaban itu sebenarnya sudah
diungkapkan Rasulullah saw. jauh sebelum masa fitnah ini datang. Rasulullah
saw. mengatakan, “Sesungguhnya Allah swt. akan mengangkat derajat suatu kaum
dengan kitab ini (al-Qur’an), dan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum
yang lain.” (HR. Muslim)
Itulah yang terjadi saat ini di tubuh
umat Islam. Di belahan bumi mana pun, umat Islam persis seperti yang
digambarkan Rasulullah saw. sebagai hidangan yang diperebutkan orang. Buminya
dijajah, kiprahnya dikucilkan, dan citranya ternodai dengan sebutan
‘teroris’.
Seorang sahabat Rasul bertanya, “Apakah
waktu itu umat Islam sedikit, Ya Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Justru
kalian waktu itu banyak. Tapi, terjangkit penyakit wahn!” Masih bingung,
sahabat itu pun bertanya lagi, “Apa itu wahn, ya Rasulullah?” Rasulullah saw.
pun menjelaskan, “Cinta dunia dan takut mati!”
Persoalan mendasar umat ini adalah
tidak adanya pedoman yang bisa dijadikan pijakan bersama. Umat Islam
terkotak-kotak dalam Undang-undang negara mereka. Mereka menjadi kehilangan
identitas dan ideologi.
Bisa diukur, sejauh mana kedekatan umat
Islam bangsa ini dengan Alquran. Berapa dari dua ratusan juta umat Islam di
negeri ini yang bisa membaca Alquran dengan baik dan benar. Berapa dari yang
bisa membaca itu yang mampu memahami dengan baik. Dan berapa dari yang memahami
itu, mengamalkan dan memperjuangkan isi Alquran. Jumlahnya mungkin sangat
kecil.
Tidak heran jika partai-partai Islam
bukan pilihan yang menarik. Tidak heran jika hiburan porno menjadi tontonan
yang laris. Umat Islam persis seperti yang disebut Rasulullah saw. sebagai
buih: terlihat banyak, tapi tanpa isi.
Begitu pun dengan mereka yang
memperjuangkan Islam. Salah satu modal dasar sukses tidaknya perjuangan adalah
ikatan dengan Alquran. Mulai dari bacaan, pemahaman, dan pengamalan. Alquran
harus hidup dalam dunia nyata seorang aktivis: diri, keluarga, dan tempat
kerja.
Rasulullah saw. pernah menasihat para
sahabat, “Jangan kamu menjadikan rumahmu bagaikan kuburan (hanya untuk tidur),
sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surah Albaqarah.” (HR.
Muslim)
Seorang aktivis Islam mestinya bukan
lagi sekadar dekat dengan mushaf Alquran. Lebih dari itu. Ia seperti punya
indera lain ketika Alquran dibacakan. Hatinya menjadi lunak dan terbuka.
Pikirannya pun jernih. Ia seperti sedang mendengar seorang raja yang sangat
dicintai berbicara di hadapannya.
Seperti itulah yang pernah dilakukan
seorang teladan aktivis dakwah, Baginda Rasulullah saw. Salah seorang sahabat
yang begitu dekat dengan Rasul, Abdullah bin Mas’ud menuturkan pengalaman
menarik itu.
Suatu kali, Rasulullah saw. berkata
kepadaku. “Bacakanlah untukku Al-Quran.” Aku berkata kepada Rasul, “Ya
Rasulullah, bagaimana saya membacakan untukmu Al-Quran, padahal ia diturunkan
kepadamu.” Rasulullah saw. mengatakan, “Saya ingin mendengar dari orang lain. Aku
berkata, “Maka saya bacakan surat Annisa’ hingga sampai pada ayat Fakaifa idza
ji’na min kulli ummatin bishyahidin waji’na bika ‘ala ha-ula-i syahida.
Bagaimanakah jika Kami (Allah) telah mendatangkan untuk tiap umat saksinya, dan
Kami jadikan kau sebagai saksi atas semua umat itu. Nabi berkata, “Cukuplah
sampai di sini.” Maka aku menoleh ke arah Nabi saw. Aku mendapati Rasul sedang
bercucuran air mata.” (HR. Bukhari Muslim)
(dari berbagai sumber).
Share This :

comment 0 komentar
more_vert