Makanan bisa menyehatkan, bisa pula menyusahkan. Bikin sehat bila
higienis dan mencukupi kebutuhan gizi. Bikin susah kalau ditebengi
"penumpang gelap" berupa racun atau kuman. Dengan penanganan sempurna
sejak pemilihan bahan makanan hingga penyajiannya, keracunan yang bisa
berakibat fatal bisa dicegah.
Kalau kasus keracunan, kerugian akan menimpa banyak pihak.
Konsumen mendapat rasa sakit. Bahkan pada kelompok berisiko tinggi seperti
balita, lansia, atau orang sakit bisa berisiko kematian. Sementara produsen
atau pe-nyedia makanan akan menderita penurunan, atau kehilangan, kepercayaan
konsumen.
Biang keladinya macam-macam , keracunan makanan sejatinya gejala
klinis atau gangguan kesehatan akibat mengonsumsi makanan yang terkontaminasi
racun. Bisa berasal dari bahan kimia, racun alami makanan, atau mikroorganisme.
Kalau terjadi akibat bahan kimia, biasanya itu gara-gara kecerobohan atau
kesengajaan. Bahan itu di antaranya pestisida yang digunakan berlebihan pada
produk pertanian, dan bahan kimia rumah tangga.
Makanan yang dari sononya sudah menyimpan racun juga bisa
menimbulkan keracunan. Biasanya akibat pengolahan atau pemasakannya kurang
sempurna atau langsung dikonsumsi mentah-mentah.
Contoh, singkong dan daunnya mengandung zat amidalin.
Sewaktu-waktu asam sianidanya dapat terlepas dari ikatannya sehingga bisa
menimbulkan keracunan sianida. Biji jengkol mengandung asam jengkol yang sukar
larut dalam air. Kentang dengan racun solanin bisa menimbulkan gejala
muntah-muntah, diare, sakit kepala, sakit perut, dan badan lemah.
Mikroorganisme yang mencemari makanan berulah dengan cara
mengeluarkan racun (bacterial food poisoning) atau menginfeksi saluran
pencernaan (bacterial food infection). Clostridium botulinum adalah contoh
mikroorganisme yang meracuni dengan cara mengeluarkan racun. Penderita yang
terserang toksin ini umumnya meninggal karena kesulitan bernapas. Bakteri ini
sering terdapat pada makanan kaleng yang sudah rusak, umpamanya kaleng kembung,
berkarat, bocor, segel rusak, isinya menggelembung, berbau, atau berwarna tak
normal, makadari itu jika kita membeli makanan kaleng perhatikan kemasannya,
apakah masih bagus atau sudah rusak.
Juga Pseudomonas cocovenans yang menghasilkan racun pada tempe
bongkrek, dan Staphylococcus aureus yang mengeluarkan toksin pada makanan
berprotein tinggi (daging, telur, susu, ikan) dan makanan yang disiapkan dalam
jumlah besar.
Sedangkan yang menginfeksi saluran pencernaan di antaranya
Salmonella sp., penyebab salmonellosis. Orang bisa menularkan penyakit ini bila
menderita sakit atau sebagai carrier. Makanan yang sering tercemar salmonela
antara lain daging atau hasil olahannya, telur retak, dan makanan yang disimpan
pada suhu 10 - 60 derajat C.
Jangan abaikan kebersihan diri, Ada enam langkah mencegah
keracunan seperti dimasyarakatkan Departemen Kesehatan RI. Tidak cuma untuk
sektor industri, tapi bisa pula untuk tingkat rumah tangga.
Langkah itu dimulai dari
pemilihan bahan makanan, penyimpanan makanan mentah, pengolahan bahan makanan,
penyimpanan makanan jadi, pengangkutan, dan penyajian. Semua itu bertujuan
menyediakan makanan sehat dan aman dikonsumsi, dengan menekankan pentingnya
aspek higiene dan sanitasi.
Biasanya, bahan makanan dibagi menjadi dua jenis: yang tidak mudah
rusak dan tahan lama, serta yang mudah rusak. Yang tahan lama biasanya dibeli
dalam jumlah besar dan disimpan sebagai persediaan. Sedangkan yang mudah rusak
lebih sering dibeli dadakan. Saat belanja inilah tahap pemilihan bahan makanan
mulai dilakukan.
Pemilihan bahan akan lebih efektif bila dibeli dalam jumlah
terbatas. Khusus untuk makanan mudah rusak, proses seleksi lebih baik dilakukan
saat pengolahan. Lalu seleksi makanan yang tidak mudah rusak dilakukan saat
penyimpanan. Yang berkondisi tidak baik disingkirkan agar tidak mencemari bahan
makanan lain yang berkondisi baik.
Menyimpan bahan makanan yang tidak mudah rusak dan yang mudah
rusak juga perlu dibedakan. Yang gampang rusak disimpan di lemari es atau
gudang berpendingin. Yang awet cukup ditaruh di gudang biasa atau lemari bahan
makanan. Yang penting, tempatnya bebas tikus, menerapkan prinsip FIFO (first in
first out), mudah dibersihkan, dan penempatan-nya dipisahkan dari bahan
kimia.
Langkah ketiga, pengolahan bahan makanan menjadi makanan siap
santap, yang merupakan salah satu titik rawan terjadinya keracunan. Banyak
kasus keracunan terjadi karena tenaga pengolahnya tidak memperhatikan aspek
higiene dan sanitasi. Soal sepele seperti kebersihan kuku, pakaian kerja,
dan rambut sering diabaikan, padahal bisa berakibat fatal. Perilaku kurang
baik, macam merokok saat mengolah makanan, tidak mencuci tangan setelah dari
kamar kecil, dan tetap mengolah makanan meskipun dalam keadaan sakit
memperbesar risiko terjadinya keracunan.
Sesudah diolah, makanan umumnya disimpan lebih dulu, lalu diangkut
untuk disajikan. Terjadinya kontaminasi pada tiga tahap terakhir bisa sangat
berbahaya, karena makanan sudah dalam keadaan matang atau siap santap. Khusus
untuk di rumah, hati-hati dengan makanan setengah matang. Jangan pernah
menyimpannya secara sembarangan hanya karena berpikiran akan dimasak lagi. Bisa
jadi suhu untuk memanaskan makanan menjadi setengah matang tidak cukup untuk
membunuh kuman. Jadi, lebih baik simpan makan-an setengah matang dalam wadah
tertutup untuk meng-hindari kontaminasi. Lalu, panaskan sampai sempurna ketika
hendak disajikan. Sebagian besar bakteri akan tewas oleh panas.
Simpan sisa makanan,Kalau keracunan telanjur terjadi, tentu saja
diperlukan langkah penyelamatan. Korban segera dibawa ke Puskesmas atau rumah
sakit terdekat. Sementara sisa makanan segera disimpan di lemari pendingin. Jumlah
yang diamankan tak perlu banyak-banyak, cukup setengah hingga satu piring
kecil. Pada hari itu pula laporkan kejadiannya kepada Dinas Kesehatan,
Puskesmas, atau rumah sakit terdekat.
Dugaan penyebab keracunan biasanya diketahui setelah petugas
kesehatan melakukan serangkaian wawancara dengan korban dan penyedia makanan.
Sedangkan kesimpulan akhir penyebab keracunan akan diketahui dari hasil
pemeriksaan laboratorium terhadap sisa makanan. Contoh makanan biasanya akan
diambil petugas kesehatan untuk diperiksa di lab setelah mendapatkan laporan.
Ada banyak pemeriksaan yang akan dilakukan. Selain pemeriksaan kimiawi, juga
biologis. Biaya pemeriksaan menjadi tanggung jawab pemerintah. Jadi, tidak
perlu pusing memikirkan soal biaya untuk itu.
Menghadapi kemungkinan terjadinya keracunan, ada baiknya dilakukan
penyimpanan "arsip" makanan setiap kali mengadakan pesta atau
hajatan. Yang dimaksud "arsip" makanan yaitu sejumlah kecil makanan
yang disisihkan dan disimpan di lemari pendingin untuk bahan pemeriksaan bila
terjadi keracunan makanan.
Bagaimanapun, langkah terbaik tentu saja mencegah sebelum
keracunan terjadi.(cumibalado.blogspot.)
Share This :
comment 0 komentar
more_vert